Kamis, September 22, 2016

Kisah Inspiratif : Dialog Murid dan Guru.

Sekolah didaerah tertinggal selalu memberikan kisah hidup yang inspiratif. Sekolah yang jauh dan fasilitas yang kurang terkadang membuat murid di sekolah tertinggal terpaksa menerima keadaan. Sangat miris sekali, namun loyalitas dan integritas dari guru-gurunya sudah tidak bisa digambarkan lagi. Mereka sangat mencitai pekerjaan mereka tanpa ada kata pamrih dan hal itu pula yang membuat ilmu kehidupan mereka selalu setingkat lebih tinggi. Kepribadian itu tergambar jelas dari seorang guru bernama Fahri. Beliau mengajar di Sekolah Menengah Atas di daerah tertinggal yang muridnya hanya berjumlah sepuluh orang. Dari semua muridnya ada satu orang murid yang terhitung cerdas namun pendiam. Muridnya itu bernama Aman.

Pada suatu hari Pak Fahri dan Aman terlibat dalam sebuah percapakan. Saat itu, bel pulang sekolah telah berbunyi, namun Aman tidak langsung pulang. Dia terlihat lesu dan wajah muram seolah menggambar ada masalah yan tidak bisa dia pecahkan. Ternyata hal itu diperhatikan dengan sangat teliti oleh Pak Fahri. Rasa penasaran menggerogoti pikiran pak Fahri, mengingat beliau belum pernah melihat kondisi muridnya yang satu ini terlihat tak bersemangat.

Pak Fahri : "man, kamu nga pulang?"
Aman : "nga pak" wajahnya menunduk dan terus menunduk seperti kura-kura yang menarik          kepalanya masuk kedalam tempurung.
Pak Fahri : "sepertinya kamu ada masalah, coba ceritkan mungkin bapak bisa bantu" Pak Fahri berusaha merangkul Aman.
Aman hanya diam, ada perasaan ragu didalam dirinya untuk menceritakan masalah yang dia alami.
Pak Fahri : "Coba katakan..." Pak Fahri mengambil posisi duduk berhadapan dengan Aman.
Akhirnya aman memutuskan untuk mengawali menceritkan masalah tanpa langsung keintinya.
Aman : "Pak, Menurut bapak Tuhan itu adil nga pak?"
Pak Fahri mengerutkan dahinya berusaha memahami pertanyaan muridnya itu. Beberapa saat kemudian gelak tawa keluar dari wajah bersahaja itu.
Aman : "Kenapa bapak ketawa?" ada rasa kesal dinada Aman bertanya.
Pak Fahri : "Kamu ini, mau diskusi dari mana dulu nih?" pertanyaan Pak Fahri menegaskah bahwa beliau tau muridnya sedang menyesuaikan diri untuk menceritakan masalah.
Aman : "Gini pak, katanya Tuhan adil tapi kenapa setiap rizki mahluknya berbeda-beda pak?, coba lihat saya pak, makan aja saya harus sepiring berlima dengan saudara dan orang tua saya." Sorot mata Aman menatap tajam kearah gurunya, jelas dia membutuhkan penjelasannya.
Pak Fahri : "Pikiran kamu terlalu sempit Aman" Pak Fahri mulai serius.
Mendengar pernyataan gurunya itu Aman menundukan wajahnya lagi, sepertinya dia tau ada salah didalam dirinya.
Pak Fahri Melanjutkan : "Sebenarnya rizki itu tidak sama dengan harta, rizki itu titipan Tuhan yang dipercayakan kepada kita agar kita jaga, apapun itu bentuknya. Entah itu harta, jabatan, profesi, anak apapun deh, bahkan dalam bentuk perasaan seperti bahagia."
Aman : "Tapi Pak tetap aja nga adil" tegas Aman.
menanggapi pernyataan muridnya pak Fahri tersenyum. Kemudian,
Pak Fahri : "Kita main logika, ada kakek yang berumur 80 tahun masih hidup dan ada pengusaha muda tapi sudah meninggal di usia 30an. Kalo kata bapak rizki mereka sama, Coba kamu hitung sendiri berapa uang yang dihabiskan sama kakek itu untuk hidup selama itu dan berapa uang yang dihasilkan sama si pengusaha muda itu pasti tidak akan terpaut jauh apalagi si kakek masih hidup"
Aman merasa ada janggal dari penjelasan gurunya itu.
Aman : "Tapi Pak, kalo misalakan semua uang kakek itu tidak cukup untuk dibandingkan dengan si pengusaha muda itu, bagaimana?"
Pak Fahri : "Berarti Tuhan memberikan rizki dalam bentuk lain. Mungkin kebahagiaan yang kadang tidak terdapat di orang-orang kaya. Banyak diantara mereka yang mendapatkan kebahagiaan semu seperti membeli barang demi pujian atau popularitas dan yang penting ingat kekayaan tidak bisa membeli waktu untuk menghadap Tuhan."
Aman : "Tapi yang miskinpun tidak ada jaminan dia ingat Tuhannya."
Pak Fahri :"Makanya kata bapak rizki itu tidak mesti harta bisa berbentuk lain baik perasaan, anak, harta atau apapun itu. Ada banyak di dunia ini yang miskin tapi tetap kumpul dengan keluarganya dan sebaliknya yang kaya keluarga terpencar, lihat uang tidak menyatukan mereka. Ada juga orang miskin tidak pernah kumpul tapi bahagia karena merasa cukup untuk makan dan ada orang kaya selalu kumpul tapi bertengkar terus, semuanya itu setara man, Intinya ketika Tuhan memberikan hal yang lebih maka Tuhan akan mengurangi yang lainnya. Agar rizki kita tetap sama."
Aman :"Bagaimana dengan orang kaya tapi bahagia, selalu kumpul tidak pernah bertengkar, wajah tersenyum berseri-seri tanpa rasa hampa.?"
Pak Fahri : "Berarti orang kaya itu pandai bersyukur"
Aman merasa masih menggantung masalahnya itu.
Aman : "Terus kalo orang miskin meninggal muda, selalu bertengkar, tidak pernah kumpul sama keluarganya, itu gimana?"
Pak Fahri : "berarti Tuhan menunjukan sifatnya yang lain, Maha Pengasih dan Maha Penyayang"
Aman :"Berarti rizki nga sama"
Pak Fahri :"Man, sekarang kamu punya masalah, terus nyawamu dicabut sama Tuhan. Pasti pikiranmu merasa legakan... kamu sekarang pasti berpikir kesana, meninggal lebih baik. Nah, hal itu sudah membuktikan kalo rizki kita sama. Hidupnya itu digantikan dengan perasaan lega telah meninggal itu. Tapi itu kalo Tuhan yang nyabut nyawa kita ya, bukan bunuh diri"
Aman :"Maksudnya Pak?"
Pak Fahri : "Kalo hidup kita menderita terus tapi kita masih bernafas, artinya Tuhan punya rencana yang membahagiakan di kemudian hari. Jalan itu memang panjang man, tapi ingat setiap jalan pasti ada unjungnya"
Aman mulai merasa lega dan akhirnya dia memutuskan untuk menceritkan masalah sebenarnya.
Aman : "Sebenarnya, saya ingin lanjut kuliah pak tapi keluarga saya bilang nga punya uang buat bayar kuliah." wajah Aman kembali menunduk.
pak Fahri : "Owh itu masalahnya, kamu memang sebentar lagi lulus tapi bukan berarti usahamu sampai disitu, carilah beasiswa. Bapak yakin kamu pasti bisa."
Aman merasa ragu...
Pak Fahri :"Biar bapak bantu ya, nanti bapak cariin informasinya. Man, Kalo kamu punya niat segala sesuatunya pasti mengikuti. Tenang bapak bantuin kamu sampai kuliah."
Aman merasa lega sekali sampai akhirnya dia memutuskan untuk pulang.
Aman :"Makasih ya pak, maaf"
Pak Fahri :"Iya sama sama, nga apa-apa man" sambil tersenyum Pak Fahri merasa lega bisa mengatasi situasi ini.
Aman :"Pak, saya pamit pulang ya pak" Aman mencium tangan Pak Fahri gurunya itu dan bergegas pulang.

#Sekian#
Maaf ya, masih pemula. Hehe. Silahkan kasih komentarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar